Senin, 17 Februari 2014

I want to be Sarjana

Diposting oleh Jus Curia Novit di 16.22
Rasanya kuliah lagi itu…

Ini adalah semester awal saya menjadi mahasiswi (lagi) di bangku perkuliahan. Bukan karna ngulang MK, gak lulus, ketinggalan atau belum mengambil salah satu MK buat prasyarat kelulusan. Tapi, karna saya melanjutkan kuliah untuk menjadi Sarjana, (sebelumnya saya baru mencapai Diploma).

1 September 2013 menjadi hari pertama masuk kuliah di fakultas yang sama hanya jurusan yang berbeda dan masih saja kebingungan atau dibuat bingung seperti maba, sedikit.
Dan di 4 & 5 September 2013 nya saya harus mengikuti ospek susulan untuk mendapatkan KHS. Gak ada perploncoan sama sekali tapi tetep aja yang namanya ospek itu pasti dibuat repot sama panitia.

Sempat ada teman yang mengkhawatirkan bagaimana psikologi saya yang dikarenakan baru dua bulan yang lalu berjalan di red carpet dengan toga tetapi sekarang harus menjadi mahasiswi lagi.
Dengan enteng saya menjawab, “ooh itu, gak apa-apa kok, gak masalah”

Namun, lain cerita saat mulai aktif kegiatan perkuliahan, setelah nilai di konversi, hanya 20 MK atau 60 SKS yang diakui. Sedang syarat kelulusan harus mencapai 144-160 SKS. Sedangkan ditiap semester kita harus mengambil maksimal 24 SKS, jadi saya harus mengambil sisa SKS untuk mencapai kelulusan, hitung aja lagi berapa. Yah.. sekitar 2-2,5 th lagi.

Perjuangan baru saja dimulai.

Yang menjadikan ini semua itu terasa agak membebani adalah…

1. MENTAL.
Semester awal ini saya mengambil sebanyak 8 MK, pas 24 SKS. 8 MK dipelajari di semester ganjil, yaitu 1,3 dan 5. Jadi, kondisinya disini saya harus belajar bersama adik-adik tingkat. Apabila semester 3 atau 5 yang menanyakan saya semester berapa, saya gak ribet menjawab, cukup bilang “saya konversi angkatan 2013” dan mereka akan langsung paham. Nah, lain cerita apabila yang bertanya adalah anak semester 1. Saya harus menjelaskan panjang lebar, yaiyalah saya harus jelasin sejelas-jelasnya, gak mau dong dibilang ngulang atau gak lulus. Sudah dijelasin, emang mereka paham yang dimaksud konversi? GAK!

Solusinya?
Santai aja.. kan saya juga ambil yang Reguler Sore yang memang di fasilitasi untuk yang ingin melanjutkan kuliah dari D3 atau yang telah bekerja yang untuk mengambil gelar. Toh, banyak kok yang lebih tua dari saya (dari segi usia dan *maaf* muka)

2. LINGKUNGAN.
Kenapa lingkungan? Iya jelas. Karena sahabat / teman-teman saya sekarang (yang dari lulusan D3 kemarin) kebanyakan sudah menimang gaji mereka, malah banyak yang sudah menimang anak alias udah nikah. Nah, kalau ngumpul sama teman-teman yang memang dari awal mengambil S1, mereka udah mau Skripsi. Lah saya masih kuliah aje. Kalau ngumpul sama mereka dan saya menjadi warga minoritas di perkumpulan itu rasa-rasanya MINDER. Mereka udah punya gaji dan akan merencanakan membeli atau berlibur kesana kemari, sedang saya masih dijerat tugas. Hiks..
Pertanyaan “Kapan saya seperti mereka?” “Kapan saya dapat kerja?” ("Kapan nikah?" *eh*) bohonglah kalau gak muter-muter di kepala.

Solusinya?
SABAR. Udah itu aja. Rezeki, Jodoh, & Hidup Mati sudah ada yang mengatur.
Kalau gak ada yang memotivasi, rasanya cepat sekali mengeluh atau down. Tapi, sejauh ini harapan dari Mama & Ayah sangat lebih dari cukup untuk memotivasi. Dan akan lain cerita apabila saya bergaul dengan dosen, malah disuruh S2. Walah ampuun!

3. TUGAS Yang BANYAK Sekali.
Saya juga kurang mengerti ya kenapa tugasnya banyak sekali di S1 ini kalau dibanding saat di D3 dulu. Kalau kemarin di D3, tugas itu sama sekali gak membebani, malah saya kadang bertanya-tanya kenapa kuliah ini santai sekali dan jarang ada tugas kalaupun ada kami pasti bahu-membahu mengerjakannya (dan di kisah bahu-membahu ini pasti ada mahasiswa pintar yang tersakiti karna harus rela berbagi jawaban, kyakaka :D ).
Apa karena saya mengambil 3 semester sekaligus di S1? Tugas dan persentasi itu seperti “harta tetap”.

Solusinya?
Kerjakan dan jangan pernah mengeluh. Semakin ditunda, semakin menumpuk.

Novi usia 11th (kelas 1 SMP): “Mama, dedek besok mau kuliah di UI biar sama kayak Dian Sastro”

Ini salah satu yang menjadi motivasi. Saya baru kuliah di Manajemen Unram. Lalu bagaimana dengan menjadi anak Teknik? Kedokteran? Yang tugas dan materi pembelajarannya gak mau saya bayangkan. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang kuliah di universitas unggulan tanah air atau bahkan anak-anak yang kuliah di luar negeri? Persaingan semakin ketat.

4. DOSEN.
Ada dosen yang selalu ngasih tugas ngerangkum TULIS TANGAN di tiap minggunya. Ada juga dosen yang udah kita bela-belain masuk ke kelas di lantai 3 eh malah si dosen yang gak masuk, atau dosen otoriter yang suka mindahin jadwal kuliah di hari H. Bahkan, ada yang parah nih, dosen yang ketagihan ngajar kita alias udah abis jam beliau teteeeep aja nerangin di papan padahal mahasiswa-mahasiswinya udah pada nguap, ngegosip, ketawa-ketiwi di belakang (dosen tabah).

Solusinya?
Sama kayak poin 2 & 3. TERIMA.

5. GAK punya GENG.
Iya oke ini gak penting-penting amat. Tapi penting juga sih, semisal geng buat sekedar nongkrong, ngeNAV, nonton (patungan), makan, ngepantai, dll. Di tiap MK, teman saya beda-beda. Kalau gak rajin-rajin bertanya atau gak punya banyak koneksi, pasti bakal ketinggalan ada tugas baru, ngumpulin uang buat photo copyan, ngumpulin tugasnya di ruang mana, dosen yang pindah jadwal ke hari apa dan ruang berapa.

Solusinya?
Untungnya saya masih punya 3 sahabat, teman dekat, besties, dan apalah namanya. Kami berempat selalu kemana-mana bareng, duduk di kelas sederet, dan gak terpisahkan. Saling berpegangan tangan dan gotong royong untuk ngerjain tugas (dan titip absen). Hihi..
Mereka bertiga ini teman konversi juga.
Pertama ada Yoga Asmaraditha Abadi Von Kriegenbergh, temen dari SMP (beda kelas), temen les SMP, temen SMA (satu kelas selama 2 tahun), temen les SMA, temen seprodi dan segeng di D3, temen satu UKM, temen satu dosen pembimbing laporan akhir, temen satu dosen sidang, dan sekarang jadi temen di S1. Emang beneran abadi kayak namanya.
Kedua ada MELISA, temen satu SMA (beda kelas), temen di seprodi dan segeng di D3, temen satu UKM dan sekarang S1 bareng lagi.
Ketiga ada Ni Nyoman Yasri Purwani, dulunya kita satu SMP tapi gak dekat cuma kenal biasa, kenal muka doang, lalu SMA pisah di SMA berbeda, di D3 ketemu lagi hanya saja si Yasri ini prodi Akuntansi, lagi-lagi hanya bertemu muka aja gak saling sapa dan gak kenal satu sama lain. Eh malah sekarang di S1 jadi temen senasib sebanting tulang.


6. INDIVIDUAL
Pernah pengalamannya si Dita meminjam catatan seorang mahasiswi, tapi mahasiswi ini malah nolak dan bilang “gak mau”.

Solusinya?
Ngetawain si Dita :D. Tapi masalah ini gak terlalu signifikan sih, sejauh ini lebih banyak yang mau menolong dan berbagi. Dan malah sekarang itu mahasiswi jadi baik banget ama kita berempat. Alhamdulillah…


Kadang saya ingin seperti beberapa mahasiswa lain yang dengan gampangnya gak masuk dan gak ngerjain tugas karna mereka punya surat izin dari kantor sehingga semua akan dipermaklumkan. Atau kuliah menjadi nomor 2 bagi mereka, karena mereka telah bekerja.

Kadang saya juga ingin pura-pura lupa, gak peduli, masa bodoh, abaikan kalau ada tugas, tapi gak bisa, selalu gak bisa, semacam sudah melekat, sudah jadi tanggung jawab, dan selalu takut buat bandel sedikit aja.

Di semester awal ini, saya sudah pernah "keles" sama dua mahasiswi gara-gara hal sepele, habis saya gak suka aja sama orang yang pasif dan gak bisa kerja tim dalam tugas kelompok. Dikira saya gak bisa jahat apa dengan gak nulis namanya di makalah atau meminta "duit operasional" banyak-banyak. Kuapok!
Saya pribadi, untuk sebuah tugas semua harus terlihat total, sempurna, maksimal, All Out, tak terkalahkan kalau perlu A++ selama saya mampu mengerjakan dan memahami materi tugas yang diberikan. Gak peduli behind the scene proses pengerjaan tugas tersebut.

Jadi.. Nikmati aja semua keletihan ini.

“berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, belum tentu juga sih senang di kemudian” (Zaman sekarang pribahasa itu udah berubah).

0 komentar:

Posting Komentar

 

Juice's Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review