31 Agustus 2007. Enam tahun yang lalu dari hari ini 31 Agustus 2013.
Hari itu saya masih baru berusia 30 hari menginjak usia 15 tahun dan masih duduk dibangku kelas 10 (1 SMA). Hari dimana ulang tahun kota kelahiran saya guys, kota yang sudah membesarkan saya dengan kesederhanaan dan kereligiusannya. Kota Mataram tercinta.
Beberapa hari sebelum tanggal 31 Agustus, wali kelas saya sudah menghimbau kalau pada hari peringatan ulang tahun kota Mataram, kami seluruh pelajar di Kota ini akan memakai baju adat atau kebaya bagi siswi serta baju adat dan pakaian khas Betawi bagi siswa (karna itu yang paling simple).
Saya gak berfikiran macem-macem untuk memakai baju adat macem-macem atau dandan macem-macem. Hanya satu di otak saya, yaitu ide untuk memakai baju adat Minangkabau. Lah? Apa hubungannya nih? Yang ulang tahun kan kota Mataram kenapa jadi pakai baju adat suku Minangkabau. Memang pengumumannya boleh memakai baju adat, tetapi baju adat Suku Sasak, Suku Sumbawa, Suku Mbojo dan paling jauh Suku Bali. Karna empat suku ini merupakan mayoritas yang mendiami Kota Mataram, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya jelas melakukan penyimpangan dengan ingin memakai baju adat Sumatera Barat. Tetapi saya hanya ingin memakai baju ini. Tidak yang lain. Tidak juga kebaya.
Di Hari H.
Dengan diantar ayah ke sekolah, pas turun dari mobil, sumpah…….
Fix kayak orang mau berangkat jadi pengantin. Aduh pokoknya meriah banget dah. Bukan dandanannya, karna saya memang gak dandan berlebihan. Tapi bajunya bok, warna merah khas warna suku Minang dan bordiran benang emas pada leher ditambah lagi ikat pinggangnya, high heels punya mama yang buat saya gak bisa jalan cepat, kain tenun yang membalut ketat pinggang ke bawah dan tentunya tanduk di kepala. Oke.
Memang saat itu tidak ada yang peduli. Tidak ada yang peduli. Lagi sekali, tidak ada yang peduli saya salah kostum. Malah salah satu teman saya ada yang memuji, “cantik Nov, tapi kamu paling lain”. Ya sudahlah, saya pede aja, lagian saya suka jadi yang paling beda meski jadi yang paling diperhatikan. Dan ternyata, setelah memasuki lapangan untuk melakukan upacara peringatan ulang tahun Kota Mataram, faktanya bukan cuma saya yang pakai baju adat melenceng dari himbauan. Ada juga yang pakai baju adat Jawa Timur, Jawa Tengah dan Makassar.
Pagi itu, saya barisan paling depan di regu penyanyi, karena kelas saya saat itu didaulat untuk jadi regu penyanyi. Tau gak? Saya gak berani banyak gerak. Kenapa? Karena tanduk saya sempat mencolok mata teman disamping saya, malah sempat menyangkut di konde teman yang lain waktu saya menoleh ke belakang saat ada teman yang memanggil. Aduh, ribet dah urusan. Mana saya sempat kesandung lagi di kantin gara-gara high heels itu.
31 Agustus 2013
Dirgahayu Kota Mataram yang ke 20. Semoga semakin maju, religius dan berbudaya. Sebagai Ibukota Provinsi yang mulai naik daun dengan popularitas pariwisatanya yang mulai terkenal saya pribadi mendoakan agar bisa bersaing dengan kota-kota lain yang maju di Indonesia (sukur-sukur sampai bisa menyamakan diri dengan kota di luar negeri). Dan semoga masyarakat kota kecil ini bisa sadar dan tidak lupa diri untuk senantiasa sama-sama menjaga dan membangun Mataram menjadi lebih baik. Amiin…
0 komentar:
Posting Komentar