Dua menit lagi jam menunjukkan pukul 5 Sore waktu Kota Padang. Itu artinya sepeda di halaman depan siap buat digowes ke pantai itu. Pantai Ujung Batu, mereka menyebutnya demikian, padahal menurut saya ini tidak lebih dari pesisir dari Samudera Hindia yang sewaktu-waktu bisa meluluhlantakan perumahan di depannya jika gempa terjadi.
Menyusuri jalan beraspal dipinggir sungai yang bermuara di Pantai Ujung Batu sudah menjadi kebiasaan baru saya setiap sore di Kota ini. Setidaknya tempat ini yang membuat saya nyaman dan seperti di Lombok. Saya tidak bisa jauh dari pantai.
Terus saja kukayuh sepedah dengan keranjang yang tentunya cukup menampung buku kecil, kamera dan handphone yang setia menemani saya setidaknya sampai matahari terbenam.
“Haiii… aku kembali!!” teriakku pada ombak di depan sana.
Pantai ini, tidak ada keindahan disini, tidak seperti pantai di Pulauku yang saking indahnya sampai menjadi sektor utama pemasukan daerah. Namun air dari Samudera Hindia ini telah menjadi teman baruku disini.
Disini, di pantai ini, tentu saja tidak ada yang mengenali dan mempedulikanku. Aku bebas menulis, bermain air, mengambil foto para nelayan atau sekedar bersandar sambil mendengarkan lagu sampai keadaan mulai gelap, tapi tidak terlalu gelap untuk kembali menuntun sepedaku di pinggir sungai tadi.
0 komentar:
Posting Komentar